
Waktu terus berjalan,hari terus berganti dan harapan demi harapan barupun terus bermunculan.Segala kesibukan yang kita lakukan saat ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengejar kehidupan duniawi kita.Jika kita tanya satu persatu mahasiswa yang sekarang menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran,apa tujuan mereka belajar sampai begitu kerasnya?-Kebanyakan mereka pasti akan menjawab tujuan mereka adalah untuk menjadi seorang dokter yang sukses,sehingga bisa menghasilkan materi(harta) yang banyak,sehingga bisa memebahagiakan kedua orang tuanya & dirinya sendiri tentunya.Jika anda bertanya kepada mahasisiwa/pelajar sekolah di tempat lainnya atau bahkan kepada seorang karyawan yang sudah bekerja di sebuah perusahaan,apa yang dia kejar dan apa tujuannya hingga mau berusaha sekeras itu?-Mayoritas jawaban mereka pasti berujung pada sebuah kesuksesan,yang salah satu indikator kesuksesan bagi mereka adalah punya materi yang banyak sehingga bisa memberikan kebahagiaan kepada diri mereka sendiri dan kepada orang-orang yang mereka cintai tentunya.
Kesibukan demi kesibukan yang kita lakukan saat ini memang hampir kesemuannya berujung pada kebahagiaan dunia.Tapi pernahkah kita sadar bahwa kebahagaian di dunia itu tidak memiliki kebahagiaan yang bernilai mutlak(100%).Dalam sebuah wawancara & penelitian kepada pelajar SMK & SMA yang dilakukan oleh mahasiswa dari Surabaya menunjukan bahwa kebahagian yang kita rasakan dari kita lahir sampai umur 60 tahun(asumsi usia manusia rata-rata) hanya berkisar 25% dan sisanya perasaan netral 50% & perasaan duka 25%.Jika dilihat dari penelitian tersebut,memang hampir semua orang setuju bahwa kebahagian di dunia itu hanya bernilai kecil dibandingkan dengan perasaan netral yang lebih sering kita rasakan.Karena saat kita ingin mendapatkan kebahagiaan,kita harus melakukan usaha demi usaha yang di dalam usaha tersebut pasti terkandung perasaan netral bahkan duka yang harus kita rasakan.Bahkan orang kaya sekalipun yang kehidupannya serba mewah dan segala apa yang dia inginkan bisa terwujud,belum tentu nilai kebahagiannya lebih besar ketimbang perasaan netralnya.Karena pada hakikatnya segala sesuatu yang kita lakukan terus menerus atau sangat sering kita dapatkan pasti lama kelamaan akan bernilai netral.Bahkan ada juga orang kaya yang serba kecukupan malah merasakan perasaan duka disaat ia merasakan suatu kekosongan dalam dirinya hingga tidak menemui sebuah kebermaknaan dalam dirinya dan ada juga yang berujung pada bunuh diri karena memang dia sudah tidak tahan lagi dengan hidupnya yang selalu kosong dan tidak memiliki nilai yang jelas.(exp : Kurt Cobain).
Dari realitas diatas kita dapat melihat bahwa pada hakikatnya kebahagiaan di dunia tidak bernilai besar,bahkan didalmnya bisa bernilai penderitaan saat kita sedang mengejar dan berusaha mendapatkan kebahagiaan tersebut.Tapi juga bukan berarti kita tidak boleh merasakan kebahagiaan di dunia.Tapi penulis ingin menyampaikan bahwasanya kebahagiaan di dunia itu tidak bernilai besar,hingga kita tuhankan bahkan hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.Karena pada hakikatnya kita hanya hidup 1/17 hari di dunia ini.Allah SWT berfirman dalam surat Al Hajj ayat 47 :
"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. "
Di ayat tersebut Allah menjelaskan kepada kita bahwa sehari disisi-Nya atau bisa juga di tafsirkan sebagai sehari di alam akhirat itu sama dengan 1000 tahun dalam perhitungan kita di dunia.Jika kita asumsikan usia manusia rata-rata hanya mencapai usia 60 tahun,berarti hidup kita di dunia hanya 1/17 hari di perhitungan akhirat.Bahkan Allah juga berfirman dalam surat An Naa'ziaat ayat 46 :
"Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak
tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari."
Allah menerangan lagi dalam ayat tersebut bahwa nanti saat kita dibangkitkan,kita hanya merasa hidup di dunia seperti pada waktu pagi/sore hari saja.Waktu yang sangat-sangat sebentar tentunya.
Coba kita renungkan bersama,saat kita dibangkitkan nanti kita benar-benar merasa hidup sebentar saja di dunia dan saat kita dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang kita perbuat di dunia,kita sama sekali tidak memikirkan bahwa hari kebangkitan itu benar-benar terjadi dan kita sama sekali belum mempersiapkan untuk kehidupan akhirat kita yang jelas-jelas jika kita mempersiapkan ini di dunia dengan sungguh-sungguh dan sedikit pengorbanan pastilah kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan kebahagiaan yang bernilai mutlak(100%) di Syurganya Allah SWT.
Lalu apalagi yang kita banggakan dengan kehidupan dunia kita yang hanya berkisar 1/17 hari ini?.Masikah kebahagian dunia menjadi tujuan utama kita.Sudahkah kedudukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang pantas kita sembah dan kita jadikan tujuan hidup tergantikan oleh tipu daya dunia yang bahkan tidak bisa memberikan kebahagiaan yang bernilai mutlak?.Apakah kita lupa bahwa suatu hari nanti kita akan dimatikan dan segala yang kita lakukan saat ini akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT?.
Sudahlah teman,sudah saatnya kita kembali menjadi seorang Muslim yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.Jadikan ilmu,pekerjaan dan harta yang kita miliki sekarang sebagai langkah kita untuk mendapatkan kebahagiaan yang besar di sisi Allah.Bukan tidak boleh bahagia di dunia,tapi kita posisikan kebahagian di dunia sebagai sesuatu yang tidak kita utamakan ketimbang menjadi hamba Allah yang taat.Mari kita fokuskan segala tujuan kita hanya Allah SWT.Jika sudah demikian kapanpun dan dimanapun kita,kita akan siap jika sewaktu-waktu malaikat izrail menjemput kita dan teman-teman kita bersedih karena kehilangan seorang yang benar-benar totalitas dalam membangun peradapan Islam dan Lilahi taa'la tentunya.
"Allah adalah tujuanku.Dunia adalah ladangku untuk mendapat Ridhonya."
Sudahlah teman,sudah saatnya kita kembali menjadi seorang Muslim yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.Jadikan ilmu,pekerjaan dan harta yang kita miliki sekarang sebagai langkah kita untuk mendapatkan kebahagiaan yang besar di sisi Allah.Bukan tidak boleh bahagia di dunia,tapi kita posisikan kebahagian di dunia sebagai sesuatu yang tidak kita utamakan ketimbang menjadi hamba Allah yang taat.Mari kita fokuskan segala tujuan kita hanya Allah SWT.Jika sudah demikian kapanpun dan dimanapun kita,kita akan siap jika sewaktu-waktu malaikat izrail menjemput kita dan teman-teman kita bersedih karena kehilangan seorang yang benar-benar totalitas dalam membangun peradapan Islam dan Lilahi taa'la tentunya.
"Allah adalah tujuanku.Dunia adalah ladangku untuk mendapat Ridhonya."
No comments:
Post a Comment