Thursday, July 21, 2016

Gengsi : "Salah Satu Penyebab Rusaknya Moral Anak Bangsa"

          Dalam KBBI Gengsi diartikan sebagai kehormatan,harga diri dan martabat.Seorang yang mempunyai gengsi berati seorang itu memiliki kehormatan,harga diri atau martabat yang telah melekat pada dirinya.Sebenernya memiliki gengsi adalah sebuah keniscayaan dalam setiap diri manusia.Tapi kadangkala nilai gengsi yang salah dan berlebihanlah yang justru menjerumuskan kita pada sesuatu yang salah juga.
          Kadangkala karena gengsi,kita bisa merubah orientasi dan pandangan hidup kita.Kadangkala gengsi juga bisa merubah cita-cita hidup kita.Kenapa bisa demikian?-.Sebagai contoh ada seorang remaja yang sejak awal kali dia masuk Sekolah Menegah Atas,ia mempunyai cita-cita menjadi seorang Arsitek,dia sangat senang ketika melihat bangunan-bangunan besar yang sangat indah dan sangat tinggi dari bangunan biasanya.Seiring perjalanan waktu,saat dia sudah di penghujung SMA,lingkungannya menganggap bahwa orang yang paling pintar dan hebat diantara mereka adalah orang yang bisa masuk universitas jurusan Kedokteran.Ditambah lagi ada penghargaan sosial yang ia lihat dari kaka alumninya yang berhasil masuk ke universitas jurusan kedokteran itu.Bagi lingkungan teman-teman SMAnya,jurusan arsitek adalah jurusan yang biasa saja dan kebanyakan mereka yang masuk jurusan arsitek tidak mendapatkan perhargaan sosial dari teman-teman di SMAnya.Karena dia merasa pintar dan ingin dipandang juga sebagai orang yang hebat dikalangan teman-temannya,maka mulai saat itu ia memutuskan untuk merubah cita-citanya menjadi seorang dokter tanpa pertimbangan yang lebih matang lagi.
          Jika kita lihat dari fenomena diatas.Kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata orang tersebut memiliki nilai gengsi yang tinggi dalam dirinya,yang sampai bisa merubah cita-cita awalnya.Saat nilai gengsi itu berlebih dalam dirinya,maka potensi untuk mengikuti perasaan gengsi itu sangat tinggi dan sulit dikendalikan oleh akal sehat dan perencanaan yang matang.Padahal bisa saja saat dia mengikuti minat awalnya untuk menjadi seorang arsitek,dia bisa menjadi arsitek yang sukses karena memang ia tertarik di bidang itu,ketimbang dia harus mengikuti perasaan gengsinya untuk masuk ke universitas kedokteran yang belum tentu nantinya ia menyukai pekerjaan di bidang tersebut.

          Jika kita lihat lebih dekat dengan realitas remaja bangsa kita saat ini,ternyata banyak diantara mereka yang memilih sikap berdasaran perasaan gengsinya.Bahkan pemilihan sikap berdasarkan perasaan gengsi ini bisa berdampak kepada perubahan kepribadian mereka yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan gengsinya itu.Dan berikut adalah beberapa moral buruk yang timbul pada remaja kita saat ini yang diakbiatkan oleh perasaan gengsi yang salah dan tidak berorientasi dalam kebenaran :

 1.Moral Perokok dan Pecandu Miras bahkan Narkoba
          Dalam salah satu berita yang disirkan di TV swasta,mereka pernah melakukan survey kepada para remaja yang memilih untuk merokok.Kebanyakan alasan mereka untuk memilih merokok adalah untuk coba-coba saja.Berawal dari coba-coba,kemudian mereka ketagihan dan akhirnya menjadi pecandu rokok yang tidak bisa hidup tanpa rokok.Sebenarnya jika kita tarik lagi sebelum mereka memilih untuk coba-coba,ada psikologi lagi di dalam hati mereka kenapa mereka memilih untuk coba-coba.Karena tidak mungkin orang yang tanpa pengetahuan apapun,tiba-tiba memilih untuk coba-coba untuk merokok.Tidak mungkin seorang remaja yang selalu hidup dirumah dan tidak punya teman diluar rumahnya serta tidak pernah meilhat realitas orang yang merokok,tiba-tiba dia memilih untuk coba-coba merokok.Pasti ada alasan lain sebelum mereka memilih untuk coba-coba merokok,yaitu perasaan gengsi kepada temannya yang sudah lebih dulu merokok.
          Kebanyakan mereka yang memilih untuk coba-coba merokok adalah mereka yang terbiasa berada pada lingkungan yang mengajarkan mereka unuk merokok.Merokok dipandang sebagai sesuatu yang keren.Setiap laki-laki yang merokok adalah pria sejati yang dianggap macho.Orang yang tidak merokok dianggap sebagai seorang yang lemah dan dianggap sebagai laki-laki yag pengecut.Dari pengondisian seperti itulah yang membuat mereka gengsi untuk tidak coba untuk merokok.Karena saat mereka memilih untuk tidak merokok,berarti mereka siap menerima resiko dikucilkan dari lingkungan pergaulannya dan kebanyak remaja tidak siap menerima realitas itu dan lebih memilih untuk mengikuti budaya yang sudah melekat kuat pada kelompok pergaulannya.
           Setelah mereka telah mengenal rokok,biasanya mereka akan terus merokok dan bertambah sering lagi intensitas mereka merokok.Semakin mereka dewasa,biasanya mereka bertemu lagi dengan teman-temannya rokok,seperti miras dan narkoba yang jauh dianggap lebih keren lagi setelah rokok.Karena mengikuti perasaan gengsinya inilah mereka akan terus mencoba dan mencoba apa yang telah dianggap baik oleh lingkungannya.Mereka sudah mulai mengurangi pengguanaan akal sehat mereka untuk menilai segala sesuatu dan lebih menilai sesuatu dari enak dan gak enaknya saja.Dan BAAAAMMM...moral ini bisa anda lihat di lingkungan sekitar anda yang sudah sangat banyak dan mendarah daging di penerus bangsa kita :-(.

 2.Moral Pemalas dan Tidak Pernah Memikirkan Masa Depan
          Kedua moral ini sangat terlihat sekali di lingkungan pelajar bangsa kita,terutama yang berada pada tingkat SMP dan SMA,karena pada masa itu setiap pelajar sudah bisa dibilang memasuki usia remaja yang dimana mereka dalam tahap pencarian jati diri.Lagi-lagi peran lingkungan sangat tinggi disini.Biasanya moral-moral seperti bolos ke sekolah,tidak mengerjakan tugas itu tidak mereka lakukan seorang diri.Biasanya mereka membuat kelompok-kelompok pergaulan di dalam kelas atau sekolahnya yang setiap anggotanya harus bersamaan melakukan moral-moral buruk itu.Pemilihan anggota tersebut tentu saja tidak dilakukan dengan jalan yang jelas dan terstandar siapa-siapa saja yang boleh masuk kelompok itu dan siapa-siapa saja yang tidak boleh.Bisanya kelompok itu muncul dengan spontan karena adanya kesamaan ide dari beberapa orang yang mempunyai moral yang hampir sama atau bahkan sama.Dari kelompok yang tidak sebgaja dibentuk itu,kemudian tanpa disadari masuklah teman-teman mereka yag awalnya tidak punya moral yang sama dengan mereka,tapi karena punya kedekatan personal dengan salah satu anggotanya dia bisa masuk dan itupun tanpa ia sadari.Seiring berjalannya waktu,ia baru melihat bahwa kelompok tersebut mempunyai moral yang tidak baik dan beberapa orang yang kuat pendiriannya pasti lama kelamaan akan menjauh,tapi seseorang yang mempunyai nilai gengsi yang tinggi kepada temannya,ia akan sulit menjauhi kelompok tersebut.
          Dalam ilmu psikologi,tidak mungkin sebuah organisasi/kelompok bisa berjalan jika tidak mempunyai ideologi atau cara pandang yang sama.Ini berlaku juga terhadapa kelompok tadi yang tidak mungkin tersu berjalan jika tidak memiliki cara pandang yang sama.Dan pada kenyataannya kelompok ini terus berjalan dan membuat moral-moral buruk lainnya yang secara tidak sadar anggota kelompoknya harus mengikuti moral tersebut jika tidak mau dikucilkan dalam kelompoknya.Karena sudah mengakar dalam kelompok mereka budaya seperti bolos dan lain sebagainya,maka sudah bukan hal yang baru jika malas dan tidak punya perencanaan masa depan dalam kelompok mereka.Biasanya mereka lebih senang menghabiskan waktu mereka dengan hura-hura dan melakukan hal yang mereka anggap sebagai suatu kesenangan.Jika kegiatan ini terus mereka lakukan dalam keseharian mereka bersama kelompoknya,maka jadilah semakin banyaknya para pemalas dan pengangguran di negara dengan ideologi Pancasila ini.

 3.Moral Liberal dan Budaya Negatif Barat
          Dalam era globalisasi ini,tentunya sangat mudah bagi kita untuk mengakses segala sesuatunya,bahkan yang ada di dunia bagian barat sekalipun.Dunia menjadi terasa sangat dekat dan budaya luarpun menjadi sangat mudah masuk tanpa harus diantisipasi keberadaanya.Memang tidak semua budaya yang berasal dari barat adalah budaya yang negatif,tapi seringkali remaja kita justru lebih senang mengambil budaya-budaya yang negatif,ketimbang dengan budaya yang positif.
          Liberal (bersifat bebas) adalah salah satu budaya barat yang masuk ke negara kita dan tidak sedikit anak bangsa kita yang mengikutinya.Walaupun seringkali orang tua mereka sudah mengajarkan budaya serta moral  yang baik kepada mereka,tapi seringkali gengsi menjadi penghambat mereka melakukan budaya serta moral baik itu dalam kehidupan mereka.Mereka terlalu sering melihat realitas liberalisme sebagai sesuatu yang sudah biasa ada di lingkugan mereka.Bahkan seringkali yang menjalankan budaya liberal itu adalah teman dekta mereka sendiri yang sudah sangat akrab dengan mereka.Lagi-lagi kebebasan dianggap sebagai suatu yang bernilai tinggi dimata mereka,tanpa dipikirkan dulu seperti apa kebebasan yang benar dan seperti apa kebebasan yang telah menjadi budaya barat yaitu bebas sebebas-bebasnya.Jika sudah seperti ini,maka gengsi adalah penentu sikap remaja kita.Jika gengsinya sudah tidak dapat dibendung lagi,maka mengikuti budaya seperti ini sudah pasti menjadi pilihan mereka,karena sudah sangat banyak dari sahabat mereka yang melakukan budaya ini.Mereka sudah tidak mempertimbangkan lagi baik atau buruknya,tapi yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka bisa dianggap keberadaanya dalam lingkungan mereka dan tentunya dianggap sebagai orang yang keren di lingkungan pergaulan mereka.
         Dampak dari liberalisme ini sudah sangat sering kita lihat di media-media,seperti banyaknya anak dibawah umur yang melakukan seks bebas,banyaknya remaja yang tidak lagi menghormati guru dan orang tuanya,banyaknya pelajar yang menganggap sekolah hanya menjadi ladang mecari pasangan,banyaknya teman-teman kita yang sudah sangat akrab dengan diskotik dan tempat pelacuran,serta dampak negatif lainnya yang awalnya ditimbulkan oleh pandangan mereka yang liberal dan ditimbulkan oleh perasaan gengsi yang tinggi kepada teman-teman mereka jika tidak menjalankan budaya ini.
           Jika terus seperti ini,mungkin moral lokal yang sudah ditanamkan oleh pendahulu kita untuk menjaga generasi bangsa ini akan musnah dan sudah dianggap sebagai moral yang jadul dan tidak mengikuti perkembangan zaman.Padahal pada dasarnya,segala sesuatu yang baik itu tidak bisa dinilai dari  perasaan,tapi hanya bisa dinilai oleh akal rasional yang melihat segala sesuatu dari aspek benar dan salah.

 4.Pacaran yang Berlebihan
          Mungkin realitas pacaran sudah sangat sering kita lihat dikalangan pelajar dan remaja bangsa kita.Bahkan yang masih duduk di kursi SMP sekalipun,mereka sudah menganggap pacaran sebagai suatu yang sangat biasa dan sudah bukan lagi merupakan hal yang tabu dalam hidup mereka.Saking banyaknya realitas ini kita temui di kalangan pelajar,maka akan menjadi sebuah kewajaran jika salah satu landasan mereka untuk memiliki pacar adalah karena perasaan gengsi keada teman-teman mereka.Mereka akan dianggap rendah ketika belum memiliki pacar,dan yang sudah mempunyai pacar akan dianggap tinggi di lingkungan mereka.
          Saat ini bahkan sudah banyak istilah-istilah yang merendahkan orang yang belum meliki pacar,seperti istilah 'JONES' yang sering kita temui di meme-meme comic yang ada di Indonesia dan lain sebagainya.Pengondisian seperti inilah yang semakin membuat perasaan gengsi itu semakin tinggi,karena lingkungan yang menuntut mereka untuk mengikuti budaya yang sudah berkembang pesat dan mengakar.
          Akan tetapi,usia pelajar adalah usia yang masih rentan akan emosional yang tidak stabil (labil) dan mudah berubah-ubah.Ditambah lagi,usia pelajar biasanya masih memiliki nafsu yang kadangkala sangat besar/menggebu-gebu dan sulit untuk dikendalikan.Nafsu ini seringkali hanya dilihat dari segi perasaan enak-gak enaknya saja,tanpa dipikirkan lagi secara rasional benar-salahnya dan dampaknya kedepan dalam kehidupan mereka.Sehingga seringkali kita melihat realitas para pelajar di negara kita sudah berpacaran dengan cara yang berlebihan,seperti melakukan perilaku ciuman,pelukan,dan perilaku lainnya yang sangat tidak pantas dilakukan oleh orang yang belum masuk ke jenjang pernikahan.Dampak yang ditimbulkan pun tidak main-main,mulai dari menurunnya prestasi belajar mereka karena tidak fokus belajar dan lebih fokus dengan pasangan mereka,lebih mementingkan urusan pasangan mereka ketimbang urusan orangtua dan sekolahnya,sampai pada seks bebas yang berdampak pada kehamilan di luar akad nikah.

 Cara Pencegahan :
          Sebenernya mudah saja untuk mengontrol gengsi kita agar tidak diluar batas dan sangat tergantung dengan keadaan lingkungan.Dari contoh yang telah dipaparkan diatas,kebanyakan perilaku gengsi yang berlebihan disebabkan karena tidak siap menghadapi lingkungan yang telah mengondisikan psikologis mereka. Kebanyakan mereka lebih mengedepankan perasaan gengsinya ketimbang akal sehat dan pemikiran rasional yang berlandaskan benar dan salah.Mereka asal mengikuti saja budaya yang telah berkembang diluar dan kemudian menjadi moral yang mengakar di hati mereka.Maka dari itu,prinsip yang kuat dalam diri adalah salah satu solusi agar kita tidak mudah meninggikan gengsi yang berdampak terhanyutnya kita dalam budaya buruk yang sebelumnya telah berkembang.
          Dan berikut adalah beberapa solusi agar kita terhindar dari moral buruk yang disebabkan oleh tingginya gengsi kita dan terpengaruh budaya buruk yang telah berkembang di luar :
  1. Punya prinsip yang kuat dalam diri : Prinsip ini berfungsi sebagai pengingat kita ketika kita mulai terpengaruh dengan lingkungan yang salah dan gengsi kita mulai bermain disini.
  2. Adanya keimanan yang baik kepada Tuhan : Setiap orang yang mengaku beriman kepada Tuhannya,pasti merasa takut jika ia melakukan apa yang telah dilarang oleh Tuhannya.Maka dari itu,dengan meningkatkan keimanan kepada Tuhan bisa memperteguh diri kita untuk tetap berada pada jalan yang benar
  3. Punya perencanaan hidup yang jelas : Dengan adanya perencanaan yanng jelas dalam hidup kita,maka kita akan berpikir ulang jika gengsi kita mulai mengikuti budaya buruk yang berkembang diluar.
  4. Berteman dengan orang-orang yang baik : Karena lingkungan menjadi faktor utama tingginya gengsi kita dan mengikuti budaya yang salah,maka dengan mempunyai teman yang baik bisa menjadi solusi juga untuk membentengi diri kita,karena dengan begitu kita bisa mempunyai banyak pengingat ketika kita mulai terpengaruh dengan budaya salah di luar.
  5. Berada pada lingkungan yang baik pula : Selain mempunyai teman yang baik,lingkungan kita pun harus tetap baik juga,agar potensi untuk terpengaruh dengan budaya yang salah akan semakin kecil
          Dari kelima solusi tersebut,diharapkan kedepannya gengsi yang tinggi bukan lagi menjadi alasan kita dalam mengikuti budaya buruk yang berkembang di lingkungan kita dan menjadi manusia yang memiliki moral yang buruk pula.

- JANGAN GENGSI KETIKA DILUAR SANA BANYAK YANG MENYUARAKAN KEBATHILAN,TAPI GENGSILAH KETIKA BANYAK YANG MENYUARAKAN KEBAIKAN DAN ANDA HANYA DIAM SAJA - (Herdin Hudayat)

No comments:

Post a Comment