
Bercengkrama dengan angin malam
Disela tiupan harapan karang
Yang menggantung dalam sebuah angan
Dan bercampur dengan kopi hitam
Menjadikannya seorang terpandang di masa depan
Walau kini bukan bintang
Tapi tali yang panjang sudah ditangan
Untuk menggenggam dengan erat sinar yang takkan padam
Bukan tak ingin membutakan mata untuk sekejap
Tapi karena mata ini ingin terus berdamai
Dengan pemahaman yang memanusiakan
Dan memberikan kopi yang lebih hitam
Karena harus bercampur dengan gelapnya kesombongan
Yang dulu sempat menjadi teman sekawan
Memperbaiki diri bukanlah pilihan
Tapi takdir yang harus dijalankan
Untuk tetap berdiri di atas batu perjuangan
Jika nantinya ku bukan seorang pemenang
Aku akan tetap berada di depan
Karena perjuangan bukanlah diatas dipan
Yang mundur ketika mimpi dihilangkan oleh tiupan angin malam
Yang memanjakan dengan suara kemalasan
Dan janji kebodohan yang pasti akan datang
Teruslah bermimpi diatas meja belajar tuan
Bukan tertidur kala mimpi itu berdatangan
Dan bersantai kala mimpi itu tak sepadan
Jika bukan karena ibu pertiwi yang melahirkan
Dan karena sang saka yang memberikan balutan
Mungkin aku bukanlah yang sekarang
Yang bersama daun muda lainnya
Berjuang menjadi orang yang bisa memberikan kebanggaan
Pada tanah yang dulu sempat basah tak karuan
Oleh darah perjuangan melawan kebodohan
Dan keserakahan yang mereka tanam
Yang kini telah berbuah liar
Dan menjadi makanan kesukaan para tikus selokan